Sungai di Matamu


Maret 27, 2019
Sungai di Matamu
Written by Nasrullah Thaleb in Cerita Pendek

“Perempuan mana yang tidak ingin bahagia, membina keluarga—menikah—tapi bukan dengan berbagi suami,” terdengar suara Fitri membelah ruangan. Aku terdiam memandang matanya yang tajam. Ibu tertunduk pasrah tidak bisa berbuat banyak. Fitri adalah adik perempuan keduaku dan setelah Fitri—aku juga punya dua adik perempuan, Ayu dan Zainab; keduanya sudah bersuami. Fitri perempuan berpenampilan biasa-biasa saja yang tidak telalu cantik, juga tidak jelek. Tubuhnya tinggi semampai, berhidung mancung, bekulit putih, dan bermata hitam, membuat banyak pemuda terpesona padanya. 

    Namun, wataknya keras, sangat kritikal sehingga tidak sedikit lelaki acuh mendekatinya. Tahun lalu ia sudah menamatkan S2-nya dan beberapa alasan lain yang membuatnya semakin sibuk dan tidak sempat memikirkan untuk bersuami. Bagaimanapun Fitri adalah seorang perempuan dan itu sudah cukup menjadi alasan kuat buat Ibu untuk mencari seorang calon suami yang baik untuknya. Namun, niat baik ibu justru membuat Fitri tersinggung, seolah-olah kami seisi rumah telah memandangnya rendah sebagai perawan tua. Baginya, sikap kami telah menghapus rasa percaya kami padanya bahwa ia tidak mampu mencari dan memilih calon suaminya sendiri. Beberapa kali Fitri sudah menolak lamaran lelaki yang hendak meminangnya. Apalagi laki-laki yang datang padanya rata-rata bukanlah kriteria suami yang diinginkan. Setiap kali menolak lamaran lelaki, ia selalu bersikap acuh, seolah tak ambil pusing. Ia selalu beralasan sedang memusatkan pikiran pada karir yang merupakan perihal lebih penting baginya saat ini.

     Seiring waktu, umur FItri kian bertambah. Tahun ini usia Fitri memasuki tiga puluh lima tahun, tetapi hampir tidak ada lagi lelaki yang berminat menyuntingnya. Hal inilah yang membuat ibu semakin cemas. Baru-baru ini Ibu memberitahukan mengenai niat baik Haji Kasim ingin melamarnya sebagai istri kedua, dan itu telah mebuat adikku itu amat gusar. “Ibu tahu, bukan, di mana saat ini tidak ada satu perempuan pun yang mau dipermainkan dan direndahkan? Sekarang perempuan berhak memegang kendali dan mimpinya sendiri. Aku tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak jelas asal-usulnya apalagi dia sudah beristri,” ucap Fitri memecahkan sunyi. Hujan baru saja berhenti.

    “Perempuan mana yang tidak ingin bahagia, Bu, menikah dan punya keluarga? Tapi bukan dengan berbagi suami!” suara Fitri terdengar kembali membahana. Fitri beranjak dari duduknya meninggalkan aku dan Ibu di ruangan tengah. Suara dentuman pintu kamar membuat Ibu tersentak. Aku tidak tahu entah itu ia sengaja atau tidak. Aku mendekati Ibu dan menggelus punggungnya. Ibu yang duduk di sofa menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Aku tidak bisa berkata banyak, apalagi ikut campur dalam hal ini. Sejak aku pindah ke rumah sewa bersama istriku, Fitrilah yang mengurus semua keperluan dan kebutuhan Ibu. Aku hanya menjenguk Ibu saat ia kurang sehat, baik ketika ia rindu cucu-cucunya ataupun aku datang atas keperluanku sendiri. “Sudahlah, Bu. Maksud Ibu baik, tapi mungkin Fitri belum bisa menerimanya. Kita tidak bisa memaksanya, biarlah dia menentukan nasibnya sendiri. Memilih lelaki yang pantas atau tidak untuknya,” ucapku, yang lantas membuat Ibu terisak dalam pelukanku. 

   Setahuku Fitri memang pernah menjalin hubungan dengan beberapa lelaki, namun hubungannya selalu kandas di tengah jalan, kadang hanya bertahan satu atau dua tahun saja. Tidak ada satu satu pun yang berhasil mengantarnya ke pelaminan. Perihal itu aku tahu dari beberapa teman kantornya. Pernah juga Ibu menyuruhnya membawa calon suami ke rumah, namun ia hanya menjawab sekenanya saja. “Kiamat masih jauh, Bu. Ibu tidak usah risih memikirkan jodohku. Aku sedang tekun pada karir dan kuliahku dulu.” ucap Fitri.
    “Kamu sudah selesai S2, apa lagi yang kamu kejar? Tidak baik anak perempuan telat kawin,” jawab ibu.
      Fitri tampak bosan menghadapi pernyataan yang melulu begitu. Pertanyaan yang sama juga sering ia dengar dari teman-teman kantornya. Namun, perihal lamarannya Haji Kasim itu yang membuat adikku berang, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati. Apalagi yang menyampaikan perkara itu adalah Ibu. Namun, ia amat mengutuk kelancangan Haji Kasim, lelaki tua bangka itu. Sebagai seorang perempuan mapan, punya pekerjaan, dan berpendidikan tinggi, lamaran itu telah membuat Fitri tersinggung, terlebih lagi Haji Kasim sudah beristri. Dalam hal ini aku memilih bisu saja, aku tidak berniat berbicara, atau memberi sedikit saran maupun pendapat, apalagi mengkritiknya. Ini adalah perjodohan yang paling ditentang Fitri. Pada awalnya Ibu juga bimbang dengan lamaran Haji Kasim, namun kecemasan Ibu melebihi kebimbangannya. “Lebih baik aku mati sebagai perawan tua daripada dipoligami. Aku tak sudi menjadi istri keduanya,” amarah Fitri pecah.

       Malam itu aku gelisah tidak bisa tidur, mataku tiada bisa terpejam sebagaimana lelap malam-malam sebelumnya. Kini pikiranku terbeban oleh banyak masalah. Aku menatap wajah istriku yang lelap di samping. Wajah polos itu disiram cahaya lampu neon kuning. Aku bangkit dari tempat tidur dengan waspada. Untuk pertama kalinya, selama berjam-jam, aku pandangi wajah istriku. Perlahan aku menarik selimut, membungkus tubuhnya agar tidak kedinginan. Ia menggeliat sebentar. Aku tidak bisa membayangkan reaksi istriku bila ia tahu aku telah menduakanya. Baru-baru ini aku telah menikah dengan seorang perempuan yang aku kenal setahun yang lalu di sebuah cafe pinggiran kota Lhokseumawe. Memang tidak mudah bagi seorang istri memaafkan kala ia tahu suami yang dicintanya telah berkhianat. Aku gelisah! Apakah ia akan memaafkan aku dengan bersikap pura-pura rela agar ia terlihat sebagai sosok istri yang tegar dan saleha? Atau sebaliknya, ia akan menusukku diam-diam saat aku terlelap.

      Aku terus membatin. Entahlah! Yang jelas akulah yang telah menusuknya dari belakang. Bau  busuk sebagus bagaimanpun kita membungkusnya pada akhirnya akan tercium. Aku hanya mampu menyembunyikan istri kedua itu tidak lebih dari lima bulan. Pada akhirnya akal bulusku tercium juga oleh isrtiku. Namun, entah mengapa aku lebih merasa takut pada adikku ketimbang istriku sendiri. Bila ia tahu, maka ia akan menghujatku habis-habisan. Kecekcokan pun kerap terjadi di rumah. Aku tidak bisa menyalahkan istriku atas murkanya. Namun, aku juga tidak telalu mengakui kesalahanku karena menikah lagi bukanlah hal yang melenceng dari agama.

    Seiring berjalannya waktu, istriku pun bisa menerima atas cobaan ini, nasib yang telah menimpanya. Ia tidak terlal lagi mempermasalahkan atas sikapku yang telah menduakannya. Yang ia harapkan saat itu hanyalah tanggung jawab dariku atas anak-anak. Aku sadar, ia memperlihatkan kebaikan hatinya kepadaku bukanlah karena ia ihklas semata, tetapi karena ia tidak mampu berbuat banyak, selain hanya pasrah sebagai seorang perempuan.

       Sebulan kemudian, Fitri  menerima tawaran mengajar di  Universitas Medan. Sebuah tawaran yang semula ia tolak. Ia menjelaskan pada Ibu, mengajar di sana gajinya lebih besar ketimbang di sini. Entah mengapa aku merasa itu bukanlah alasan yang tepat meninggalkan  Ibu. Melainkan hanya alasan yang sengaja ia buat-buat. Sekalipun ia tidak pernah mengutarakannya padaku, tapi aku merasa bahwa ia sangat kecewa padaku; muak melihat roman mukaku. Ibu tidak berusaha mencegah kepergiannya, bukan karena Ibu rela ditinggal pergi Fitri, anak yang paling dikasihi di antara kami. Semata-mata karena dia berharap Fitri bisa menemukan jodoh yang baik untuknya di sana.

       Aku menceritakan dengan ringkas. Akhirnya Fitri pergi dan menetap di Medan, tiga tahun. Begitu Ibu mengira-ngira. Ibu sangat merindunkan Fitri yang lama di perantauan. Ia juga kerap mengkhawatirkan keadaannya di sana. Hanya suara Fitri dari telepon yang kadang bisa mengobati kerinduannya. Setelah dua hari Ibu sakit aku mengabari pada Fitri. Keesokan harinya Fitri sampai ke rumah. Matanya terlihat merah, aku rasa seharian ia menangis dalam perjalanan.
       “Maafkan Fitri, Ibu! Selama ini aku terlalu sibuk hingga tidak sempat menjengukmu,” tangis Fitri meledak di sisi ranjang.
      “Tidak usah khawatir, Ibu baik-baik saja. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya ibu dengan suara lemah. Fitri hanya menjawab dengan tangisan yang kian melengking. Ia mendekap Ibu yang sedang terbaring.

           Malam itu angin bertiup dingin, beberapa daun angsana yang sudah tua luruh berjatuhan. Di halaman rumah yang tidak terlalu luas, di bangku panjang bawah angsana, aku dan Fitri duduk berbincang-bincang seraya menunggui ibu.
         “Selama ini aku terlalu keras pada Ibu, padamu, dan juga pada diriku sendiri,” Fitri membuka pembicaraan.
         “Sudahlah, tidak ada yang perlu dipersalahkan. Hal baik dan buruk memang selalu terjadi dalam hidup kita, namun itu semua sudah diatur Tuhan,” jawabku menenangkan Fitri.
          Aku menilik ke arah mata Fitri yang hitam. Mata itu terlihat berkaca, ada kerutan halus melengkung di sana. Fitri merebahkan kepalanya ke bahuku. Aku membelai rambut adikku itu penuh kasih sayang.
          “Aku memutuskan menerima lamaran Haji Kasim,” ujar Fitri membuatku tersentak. “Apa kau yakin dengan keputusanmu?” tanyaku ragu.
           Aku mengangkat bahunya dan kembali kembali menatapnya lekat.  Fitri tertunduk, dua bulir air bening terbit dari sudut matanya. Air itu mengalir deras,bagaikan sungai yang terbelah.[]

Nasrullah Thaleb lahir di Lhokseumawe. Beberapa karyanya pernah dimuat media lokal dan nasional, baik cetak maupun online. Selain itu, Novelnya yang berjudul Rahmat dan Kambingnya memenangkan juara II pada Lomba Menulis Novel Anak Balai Bahasa Banda Aceh 2017. Novelnya berjudul Arian dan Naya terpilih sebagai Novel Anak Terbaik di Badan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud 2018. Novelnya yang berjudul Sebatang Anggur di Halaman memenangkan juara II pada Lomba Menulis Novel Anak Balai Bahasa Banda Aceh 2018. Selain itu, karyanya juga terhimpun dalam antologi bersama sastrawan nasional, Melukis Kasih (Bebas Melata, 2018), Bulu Waktu (Sastra Reboan, 2018).  Saat ini menetap di Gampong Blang Cut, Kec. Blang Mangat, kota Lhokseumawe, Aceh.

3 Comments